Saturday, September 5, 2009

Ditinggalkan waktu

''Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan'. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.''
(QS Faathir [35]: 37).

Waktu selalu bergerak maju. Tak pernah berhenti, apalagi mundur. Ia berjalan dengan deret hitung, dari detik ke detik secara konstan. Walau bergerak linier, tapi waktu berlalu cepat.Saat waktu bergerak dengan kecepatan konstan, amal saleh cenderung mundur, melambat, dan tidak konsisten. Tak jarang, kebaikan hari ini sama dengan kemarin. Banyak pula, kebaikan hari ini justru lebih buruk dari kemarin.

Pertumbuhan amal tak seirama dengan lajunya waktu. Baik secara kuantitas, kualitas, maupun ragamnya. Amalan kerap tertinggal oleh waktu yang terus berputar.Akumulasi kebaikan pun menjadi selalu lebih kecil dari akumulasi waktu yang telah dijalani. Perbekalan akhirat pada akhirnya tak bertambah optimal.

Kenyataan ini menjadi kerugian besar karena kehilangan kebaikan di tengah waktu yang tak akan mungkin kembali. Kehilangan prestasi di tengah hidup yang tinggal sebentar. Sesungguhnya, kecepatan teraihnya kesuksesan hidup dan melewati shirat (titian) di akhirat, bergantung pada kecepatan merespons amal. Ibnu Masud menjelaskan, ''Ada yang melewati shirat seperti kilatan petir, angin, burung, hingga berjalan di atas perutnya.''

Manusia terakhir yang berjalan dengan perutnya, bertanya kepada Allah SWT, ''Ya Tuhanku, mengapa Engkau melambankan aku?'' Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Aku tidak melambankan kamu, karena sesungguhnya yang melambankan kamu adalah amalmu sendiri.'' Akhirnya, umur hanya sebatas hitungan kuantitas waktu. Waktunya kosong dari aktivitas ilmu, ibadah, dan amal. Waktunya banyak terbuang, menjerumuskan pada kesia-siaan hidup.

Ketidakharmonisan pertumbuhan amal dengan sifat waktu, membuat manusia ditinggalkan oleh waktunya sendiri. Karena itu, dibutuhkan kemauan besar dan kuat. Diperlukan pula aksi percepatan dan konsistensi beramal untuk mengejar ketertinggalan. ''Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.'' (QS Alhadid [57]: 21).
.
Oleh Aziz W Brilianto
Sumber : Republika

0 comments:

Post a Comment